Lepas

Lepas, mungkin itu satu kata yang bisa menggambarkan keseluruhan tahun ini dalam hidupku. Seorang Raras telah terlepas dari semua keraguan yang dahulu memagarinya, mengelilinginya. Tahun ini menjadi tahun yang cukup penting karena akhirnya aku bisa melompati pagar keraguan itu.

Orang-orang terdekat pasti pernah dengar pernyataan seputar menjalin hubungan yang keluar dari mulutku. Iya, dulu aku nggak percaya sama pernikahan, nggak mau nikah, nggak mau berkomitmen. Padahal juga nggak punya historis apa-apa. Bapak dan ibuku adalah pasangan romantis yang sederhana, jadi keluargaku adem ayem aja. Punya pengalaman pacaran nggak enak pun juga nggak pernah. Ya gimana, seumur hidup nggak pernah pacaran.

Takut berkomitmen adalah hal yang menyelimuti aku sejak dulu. Kenapa? Karena aku nggak suka diatur, nggak suka didikte, dan selalu menuntut kebebasan. Bebas berbuat apa saja. Sedangkan nikah? Semua harus dipikirin bareng-bareng, keputusan harus satu walaupun aku nggak pilih opsi itu. Mendengar kata komitmen layaknya momok yang bukan aku banget. Terikat dalam satu hal, sementara aku nggak suka terikat. Apalagi menikah itu bukan antara pasangan, tapi antarkeluarga, antarlingkungan, dan semuamuanya.

Nikah ribet kan? Bahkan dulu sempet mikir, bodo amat deh nggak nikah sampai mati. Temen-temen deketku pasti tau aku cueknya mampus, mau diomongin sama orang pun yaudah lewat aja. Lagipula bapak dan ibu juga nggak pernah menyinggung hal tersebut sampai detik ini. Aku rasa itu semua terjadi karena aku diberi kebebasan oleh lingkunganku, jadi nggak ada hal yang memberatkanku ketika orang komentar apapun itu.

Kebebasan adalah salah satu anugerah yang paling aku syukuri dalam hidup ini. Dari kecil, ibu dan bapak nggak pernah melarangku untuk memilih hal-hal yang aku suka (ya kecuali hal-hal buruk ya). Aku mau masuk sekolah, jurusan, kampus manapun diizinkan. Nggak pernah didikte “Raras harus jadi insinyur kayak ibu, Raras harus jago komputer kayak bapak”. Nggak pernah diatur-atur.

Dari zaman TK-kuliah aku pun dilepas begitu aja sama ibu bapak. Aku nggak pernah diantar ke sekolah, jadi ya harus naik angkutan umum panas-panasan dan kuyup-kuyupan. Dulu sempet kesel karena kenapa bapak sering nggak mau antar aku ke mana-mana, tapi sekarang aku jadi tau alasannya. Bapak sama ibu pengen aku bisa berjalan sendiri dengan kaki sendiri. Bapak dan ibu pengen aku bisa belajar tentang dunia dengan sendirinya. Bapak dan ibu pengen aku bisa lepas dari rintangan tanpa bergantung dengan orang lain.

Perjalanan

Kembali ke pembahasan lepas. Lepas yang aku maksud adalah lepas dari ketakutan akan memulai sampai menjalin hubungan. Kisah cintaku nggak serumit kebanyakan orang karena aku nggak pernah jatuh cinta sebegitunya, kayak digambarin di lagu-lagu yang kebanyakan didengar dari band maupun penyanyi favorit.

Dari dulu, jujur, aku bukan orang yang gampang jatuh hati sama orang. Sekalipun tertarik cuma bilang “eh dia lucu deh”, udah gitu aja. Nggak pernah pusing “kok gue nggak punya pacar ya?” pas zaman sekolah bahkan sampai lulus kuliah.

Sampai suatu saat tiba-tiba aku ngajak Zaka pacaran. Iya, aku yang ajak. Bagi orang yang kenal aku dan Zaka pasti tau kisah kami gimana. Zaka suka sama aku bertahun-tahun lamanya, tapi nggak aku gubris. Tahu kenapa? Soalnya dulu nggak kepikir mau pacaran karena sibuk urusan kuliah dan perintilan lainnya (aku sempet freelance di beberapa perusahaan dan ikut beberapa komunitas). Ngumpul sama temen-temen pun udah bikin aku seneng sama hidup ini. Jadi ya kata pacar nggak pernah terlintas sedikitpun, ditambah aku nggak mau berkomitmen. Ribet.

Dorongan untuk ngajak pacaran pun nggak tau kenapa terlintas di pikiranku. Dulu alasanku adalah pengen mendobrak comfort zone dan menantang diri sendiri apakah menjalin hubungan seburuk yang ada di pikiranku. Sebulan dua bulan pertama, hubungan kami berjalan mulus dan manis. Setiap akhir pekan, kami selalu bertemu. Entah datang ke gigs, ngopi di coffee shop incaranku, jalan-jalan ke museum, atau nonton di bioskop. Ya, layaknya orang pacaran pada umumnya. Ternyata, menjalin hubungan nggak seburuk itu kok, malah jadi bikin aku nyaman dan bahagia.

Beberapa bulan kemudian, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Kali itu Zaka akhirnya jujur tentang apa yang nggak dia suka dari diriku. Bagaimana reaksiku? Oh tentu,  marah dan ngamuk. Baca lagi di atas, aku nggak suka didikte dan aku nggak suka diatur-atur. Kalau Zaka bilang begitu, tandanya aku harus berubah kan. Iya, aku emang nggak mau diatur dan nggak mau kalah (sorry for being so Sagittarian). Aku bisa secuek itu, bisa ninggalin, dan nggak akan menoleh lagi ke belakang.

Tapi ajaibnya, kami masih bertahan hingga sekarang ini. Segala luapan emosi pernah keluar dari mulut kami berdua. Sampai masing-masing ada di titik kecewa paling rendah, di titik pasrah, tapi keduanya bangun lagi. Membereskan apa yang sudah kacau dan berjalan lagi. Hubungan ini bagiku sangat luar biasa, padahal masalahnya juga sepele. Tapi karena karakter aku dan Zaka adalah karakter yang sangat berbeda, tentu bagi kami bukan hal yang mudah (dari hubungan ini pula aku mengerti kenapa permasalahan hidup banyak orang ada-ada aja).

Tantangan selanjutnya adalah ketika Zaka mengajakku untuk ke jenjang berikutnya alias berkeluarga. Wow, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Bagaimana reaksiku? Tentu, selalu menepis pembicaraan ini. Sampai-sampai Zaka marah besar dan kecewa. Pada saat itu, ia meluapkan segala isi kepalanya yang benar-benar nggak ngerti sama apa yang aku pikirkan dan lakukan.

Bagiku, membangun rumah tangga bukanlah perkara yang mudah. Aku lebih takut apa yang aku mau nggak bisa dilakukan atau dengan kata lain, jadi nggak bebas, ketimbang memikirkan bagaimana caranya menghidupi keluarga. Dont make sense? I kno right, but this is what I feel. Zaka nggak memaksaku sedikit pun, dia cuma mencurahkan apa yang ia rasa. “Aku mau nunggu sampai kapanpun kamu siap,” katanya. Setelah itu, kami nggak pernah berbicara mengenai rencana itu lagi. Dia pun nggak pernah mengungkit-ngungkitnya lagi.

Setahun lebih menjalani hubungan ini, suatu malam aku mikir apa yang udah aku lewatkan bareng Zaka. Dengan Zaka, aku bisa jadi diriku sendiri, apa adanya, se-apa-adanya itu (mengingat aku adalah orang yang selaw-selaw aja dalam hidup dan nggak pernah curhat, jadi banyak yang nggak tau sebenernya Raras itu gimana orangnya). Dengan Zaka, aku belajar banyak hal tentang memperbaiki diri sendiri, beradaptasi, dan menjalin hubungan. Nggak selamanya aku harus menahan ego, ada saatnya aku harus merelakan apa yang nggak bisa aku inginkan. Zaka semacam penyelamat yang memberitahu ada jalan setapak lain yang harus dicoba untuk dilalui.

Dengan Zaka pula aku merasakan betapa bahagianya ada orang yang selalu ada untuk berbagi segala cerita, keluh kesah, dan amarah. Dengan Zaka, aku merasakan bahwa aku bisa takut kehilangan seseorang dan ternyata nggak bisa secuek itu, lol. Dengan Zaka, aku bisa selalu tertawa lepas lihat kehidupan di saat kita masih nggak punya apa-apa. Dengan Zaka, aku bisa merasakan ternyata hidup itu nggak hanya soal diri kita sendiri. Zaka juga yang bikin aku bisa merasakan ternyata begini ya rasanya jatuh hati dan nggak mau kehilangan kayak yang dikisahkan di lagu maupun novel yang sudah ku babat habis.

Setelah itulah, aku menyanggupi permintaannya (tentunya dengan saling berbagi mengenai rencana dan impian ini + ternyata lingkungan kami nggak netizen-netizen amat yang menuntut ini dan itu terlalu banyak. Terima kasih Tuhan telah memberiku dan Zaka keluarga dan lingkungan yang baik). Nggak, hubungan kami nggak semulus itu. Banyak masalah kecil yang kerap hadir di antara kami sampai detik ini dikarenakan lagi-lagi karakter dan kebiasaan kami. Tapi semuanya bisa dilewati dan akhirnya bisa berjalan kembali tanpa ada beban di punggung kami. Kami tahu ketika kami terusik akan suatu hal, kami harus jujur, kami harus terbuka, dan kami harus mencari jalan keluarnya.

Hai Zaka, kalau kamu baca ini aku ingin mengucapkan terima kasih sudah selalu berusaha merangkulku hingga detik ini dan sudah memberi jalan dalam melihat bahwa dunia itu nggak sekecil dan semudah yang aku kira. Bahwa ada hal-hal yang nggak bisa aku taklukan, ada hal yang harus aku tinggalkan, dan ada hal yang aku harus pegang erat-erat.

Untuk kalian yang membaca ini, kami minta semangat dan doanya agar rencana kami membangun rumah tangga lancar sampai tahun depan. 2018 jadi tahun yang cukup mengubah bagiamana posisiku menjadi manusia di kehidupan ini. Hidup itu memang lucu, hoho.

Leave a Reply